Halaman

Minggu, 16 September 2012

Sugiyama Noriaki

Untuk sesaat, marilah kita melupakan sejenak posting-an serius yang selama ini saya masukkan. Mengingatkan posting-an berikutnya kemungkinan besar akan mengenai buah hasil catatan di kelas saat kuliah oleh dosen saya, maka biarlah kali ini saya berbicara tentang yang ringan-ringan saja.

Tentang Sugiyama Noriaki!



Hal ini tentunya akan mengundang beberapa pertanyaan. Siapakah Sugiyama Noriaki itu? Beberapa orang di Indonesia mungkin tidak begitu mengenalinya atau tidak begitu peduli. Namun, saya yakin, di luar sana (atau pun di Indonesia sendiri) ada banyak penggemer Sugiyama Noriaki.

Also known as Non-tan by his fans, ia adalah seorang seiyuu (pengisi suara), baik di anime, non-anime, atau pun Drama CD. Julukan Non-tan diberikan padanya oleh Takeuchi Junko (pengisi suara Naruto) dalam sebuah siaran radio berjudul "Oh! Naruto Nippon" yang di siarkan di Jepang (bisa didengarkan di YouTube lengkap dengan translation-nya).

Sebagai seorang seiyuu, Non-tan sudah cukup banyak mengisi suara tokoh-tokoh anime legendaris yang namanya mungkin tak lagi asing di telinga para penggemar anime.

Sebut saja mereka...

Uchiha Sasuke (Naruto)



Uryuu Ishida (Bleach)



Emiya Shiro (Fate/Stay Night)




William T. Spears (Kuroshitsuji a.k.a Black Butler)




Selain itu, ada satu peran lagi yang benar-benar membuat saya jatuh hati...


England (Hetalia Axis Powers)



Pada awalnya, saya tidak begitu peduli. Namun setelah menonton Hetalia Seiyuu Event "Marukaite Chikyuu" 2010, saya benar-benar menyukai Sugiyama Noriaki. Meski terkadang saya merasa ia sering salah tingkah dan gugup jika harus berhadapan dengan para fans-nya (mungkin cuma perasaan saya, sih...).

Selain anime di atas, Non-tan juga banyak mengisi suara untuk berbagai anime dan Drama CD. Memang, dilihat sekilas, Non-tan lebih sering memerankan karakter yang cool seperti Sasuke, Uryuu, dan William T. Spears. Tapi saya benar-benar mengacungi jempol saat ia memerankan England dengan karakter Tsundere-nya yang imut dan membuat saya 'awwww...'



Non-tan (England) dan Konishi Katsuyuki (America)


Non-tan memang nggak secakep artis-artis dan penyanyi Jepang atau Korea. Ekspresi wajahnya cenderung sama (senyumnya selalu sama). Tapi kalau sudah mendengarnya saat mengisi suara, image itu seolah-olah lenyap. Non-tan sudah seperti Dante Basco (Pengisi suara Pangeran Zuko -Avatar The Last Airbender dan Jenderal Iroh -The Legend of Korra) bagi telinga saya (walau terus terang suaranya tidak mirip).



Non-tan dan para seiyuu Hetalia di Hetalia Seiyuu Event "Hatafutte Parade" 2011


Sekian dulu "sampah" dari saya yang agak diluar tema blog ini. Harap maklum...

Gambar-gambar di atas bukan milik saya. They belong to their respective owner.



Senin, 13 Agustus 2012

Para Pewaris Peradaban



Saat saya sedang asyik melihat-lihat News Feed di akun Facebook saya, saya melihat bahwa teman saya di-tag di gambar ini. Perilaku seksual remaja SMP dan SMU. Jujur saja, saya kaget melihat data statistik ini. Saya memang dibesarkan dalam sebuah keluarga konservatif dan cukup agamis, tapi saya tidak mengira bahwa sedemikian bobrokkah moral generasi muda? Saat saya melihat ini, jujur, saya malu! Inikah masa depan kita?

Tidak ada gunanya menyalahkan siapa pun! Inilah sebuah fakta. Fakta memalukan tentang para pewaris peradaban! Sejarah apakah yang akan mereka goreskan nantinya? Kemana perginya moral yang selama ini sudah dipelajari?

Tidak salah jika nantinya generasi muda menjadi generasi yang bobrok! Tidak salah jika nantinya kita tidak akan dipercayai lagi untuk meneruskan perjuangan bangsa. Tidak salah jika negeri kita tidak maju-maju.

Lantas, hal ini akan membawa kita ke satu pertanyaan besar.

APA YANG BISA KITA LAKUKAN?

Berbicara memang mudah, tapi saat prakteknya, semua selalu setengah hati.

PENDIDIKAN MORAL!

Itulah yang harusnya kita lakukan. Seharusnya, generasi muda itu diberikan pendidikan karakter, penanaman nilai-nilai moral. Semuanya diatur dalam koridor-koridor agama.

SEHARUSNYA!

Tapi kini? Yang bisa kita lakukan adalah terus maju. Ubahlah diri kita sendiri menjadi lebih baik sebelum mengubah orang lain. Semua kebaikan harus kita mulai dari diri sendiri, dan kepada mereka yang masih sangat muda, tanamkan nilai-nilai budaya bangsa yang baik, nilai-nilai agama dan norma-norma yang baik. Semua dilingkupi dalam naungan agama.

Para mahasiswa, The Agent of Change, Iron Stock, dan Moral Force di luar sana!

Di bahu kitalah masa depan bangsa bergantung! Maka persiapkan diri kalian, demi kesejahteraann bangsa.

Hidup Mahasiswa Indonesia!

Sabtu, 11 Agustus 2012

Wajah Pendidikan


Sebenarnya, judul di atas itu terlalu klasik, tapi saya tidak bisa memikirkan judul lain yang lebih menarik. Mari kita asumsikan saja bahwa judul itu luar biasa. Oke? Sebelum saya lanjutkan, gambar di atas saya dapat dari Mbah Google, jadi bukan milik saya.

Pendidikan merupakan sebuah kata yang akrab di telinga kita. Saya memang masih mahasiswa baru di sebuah universitas negeri di Yogykarta (jika Anda baca posting-an saya sebelumnya, Anda pasti akan mampu menebaknya) dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, dengan jurusan Pendidikan Kimia dan prodi Pendidikan Kimia Internasional. Meski saya seorang mahasiswa baru, ada beberapa hal yang saya dapat dari beberapa kegiatan OSPEK (Kerohanian, Dialektika Mahasiswa, Brain Storming) yang menginspirasi saya untuk membuat blog yang berisi motivasi bagi masyarakat Indonesia.

Kembali ke topik mengenai pendidikan, saat salah seorang pembicara menunjukkan pada saya sebuah cuplikan dari film "Alangkah Lucunya Negeri Ini", hal itu membuat saya berpikir dan merenung tentang negeri yang sama-sama kita cintai ini. Pembicara lainnya datang dan kembali menodongkan sebuah topik yang kembali membuat saya berpikir, "Apa yang bisa saya lakukan?"

Apa sih sebenarnya tujuan pendidikan itu? Jawabannya sangat sederhana, yaitu untuk mencerdaskan bangsa. Plato pernah berkata bahwa pendidikan akan membuat orang menjadi lebih baik, dan orang yang lebih baik akan menjadikan orang itu mulia. Mari kita buang dahulu semua cara pandang idealis kita dan melihat kondisi negara ini dengan kacamata realistis.

Benarkah pendidikan menmbuat orang jadi lebih baik? Saat kita melihat para pelaku korupsi, maka kita akan menemukan bahwa mereka adalah orang-orang terpelajar. Cerdas dengan intelektualitas tinggi. Kalau mereka tidak pintar dan terpelajar, bagaimana mereka bisa korupsi? Pernahkah Anda menemukan tukang becak yang korupsi? Jawabannya tidak! Saat orang-orang menjadi terpelajar, dan mengenyam pendidikan tinggi, mereka malah menjadi koruptor. Hal ini tentu menimbulkan paradigma negatif di dalam masyarakat tentang tujuan indah dari pendidikan.

Lantas, apakah permasalahan pendidikan yang harus kita hadapi di Indonesia? Ada beberapa hal, tapi satu yang pasti adalah pendidikan itu MAHAL. Kini, di Indonesia, pendidikan telah dijadikan sebagai komoditi jasa untuk mendapatkan keuntungan yang besar. Jika Anda ingin sekolah, maka Anda harus membayar. Saya tidak menyangkal keberadaan sekolah-sekolah gratis di Indonesia, tapi berapa persenkah sekolah yang membebaskan biaya bagi peserta didiknya?

Mengutip dari http://www.suarapembaruan.com/tajukrencana/ironi-putus-sekolah/9827, "...jumlah anak SD sampai SMA yang putus sekolah pada 2010 mencapai 1,08 juta. Angka itu melonjak lebih dari 30 persen dibanding tahun sebelumnya yang hanya 750.000 siswa. Tak hanya itu, masih ada 3,03 juta siswa yang tak bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang SMP, SMA, dan perguruan tinggi. "

Tingginya biaya pendidikan menjadikan rakyat dengan kelas ekonomi menengah ke bawah tidak mampu meneruskan jenjang pendidikan mereka. Kita bisa lihat universitas-universitas negeri yang kini biayanya sangat mahal. Hal ini menyebabkan hanya orang-orang kayalah yang mampu mengenyam pendidikan tinggi sementara rakyat miskin hanya mampu menempuh jenjang pendidikan semampunya.

Namun, tipikal kebanyakan anak-anak dengan kelas ekonomi atas adalah sifat manja mereka dan kecenderungan untuk bersikap individualistik dan materialistik. Hal ini tentu akan menghasilkan output yang serupa pula. Saya bukannya menjelek-jelekkan anak dengan kemampuan ekonomi yang berlebih (saya sendiri anak ekonomi kelas menengah), namun jika kita melihat dalam kenyataannya, anak-anak ekonomi kelas atas cenderung ignorant terhadap lingkungannya. Mereka akan cenderung mencari jalan yang mudah untuk lulus secepat-cepatnya walau harus menghalalkan segala cara. Salah satu jalan yang simpel adalah menyontek.

Kita tentu tidak ingin bangsa ini dipenuhi dengan generasi muda yang (katanya) terdidik namun memiliki budaya buruk seperti menyontek, bukan? Itulah penyebab mengapa output dari pendidikan di Indonesia menjadi jelek; karena selama berada dalam jenjang pendidikan, mereka mengembangkan budaya yang jelek pula.

Permasalahan lainnya adalah pendidikan di Indonesia justru melemahkan karakter mahasiswanya. Tidak sedikit kita lihat para peserta didik yang justru disibukkan oleh urusan-urusan seperti pacaran, pergaulan bebas dan hal-hal semacamnya. Saat mereka seharusnya belajar, mereka justru disibukkan dengan urusan-urusan yang tidak penting seperti es-em-es-an dengan sang pacar atau hal-hal semacamnya. Inilah hal-hal yang melemahkan karakter.

Selain itu, di Indonesia sendiri, tidak sedikit kita menemukan manipulasi di bidang pendidikan. Mulai dari jual-beli ijazah, jalur masuk universitas lewat "pintu belakang" hingga pemalsuan karya ilmiah.

Inilah keburukan sistem pendidikan kita saat ini. Pertanyaannya, apakah yang dapat kita lakukan?

Saya punya sedikit solusi. Saat kita akan membersihkan rumput liar, tidaklah cukup hanya dengan memotong pucuknya, namun harus di cabut sampai ke akar-akarnya. Begitu juga dengan dunia pendidikan. Memperbaikinya tidak cukup hanya dipermukaan, tapi harus dari karakter generasi mudanya. Kepada para guru dan para calon guru, kita harus mampu membangun karakter generasi muda yang kuat dan tidak mudah goyah! Kita tidak ingin jika hasil dari pendidikan sekarang adalah orang-orang yang kehilangan potensi dirinya, serakah, merusak, dan menghancurkan sistem untuk tidak memanusiakan manusia.

Saya berharap akan ada generasi muda yang tergerak membaca tulisan ini. Generasi muda Indonesia adalah mata tombak perjuangan bangsa. Soekarno pernah berkata, "Seribu orang tua bisa bermimpi, satu orang pemuda bisa mengubah dunia."

Itulah kita. Pemuda-pemudi yang akan mengubah dunia!

Perkenalan Diri

Aku adalah seorang Agent of Change.

Yang akan mengubah wajah Indonesia di mata dunia. Yang bersedia mengorbankan jiwa dan raganya untuk negara. Aku adalah salah satu diantara pemikir muda idealis yang melihat segala sesuatu secara realistis meski tetap optimis. Aku adalah seorang calon guru, yang tidak hanya mengajarkan ilmu, tapi juga mendidik para pewaris peradaban.

Aku adalah seorang Iron Stock.

Yang siap untuk menjadi pewaris bangsa dan meneruskan sebuah catatan kebanggaan di lembar sejarah manusia. Seorang pemimpi yang bercita-cita mewujudkan seluruh impiannya. Seorang kader masa depan bangsa!

Aku adalah Moral Force.

Yang akan memperbaiki moral bangsa ini, melahirkan generasi-generasi muda yang cemerlang, bertaqwa, mandiri, dan cendekia!

Aku adalah mahasiswa Indonesia.

Yang ingin dan akan membawa perubahan bagi negeri ini.